Pakaian Susila Sumatera Barat (Padang) Dari Minangkabau Dan Penjelasannya
Pakaian Adat Sumatera Barat - Selain masakannya yang sangat familiar baik di kancah nasional, maupun mancanegara, Sumatera Barat juga dikenal mempunyai kebudayaan yang sangat menarik. Kebudayaan yang terpupuk subur semenjak masa silam tersebut sampai sekarang bahkan tetap terjaga dengan baik. Masyarakat suku Minangkabau dari provinsi yang beribukota di kota Padang ini memang diketahui sangat berpengaruh dalam mempertahankan budpekerti dan budayanya. Salah satu adat dan budaya tersebut contohnya dalam hal berpakaian.
Bundo kanduang sendiri yakni pakaian budpekerti Minangkabau yang dikenakan oleh para perempuan yang telah menikah. Sementara untuk para laki-laki maupun untuk sepasang pengantin, dikenal pula beberapa jenis pakaian lainnya. Berikut ini kami akan membahas wacana pakaian-pakaian budpekerti Sumatera Barat tersebut secara lengkap beserta nilai-nilai filosofinya. Silakan disimak!
Limapeh sendiri artinya yakni tiang tengah dari bangunan rumah budpekerti Sumatera Barat. Peran limapeh dalam mengokohtegakan bangunan yakni analogi dari kiprah ibu dalam sebuah keluarga. Jika limapeh rubuh, maka rumah atau suatu bangunan juga akan rubuh, begitupun kalau seorang ibu atau perempuan tidak pintar mengatur rumah tangga, maka keluarganya juga tak akan bertahan lama.
Secara umum, pakaian budpekerti Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang mempunyai desain yang berbeda-beda dari setiap nagari atau sub suku. Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang niscaya ada dalam jenis-jenis pakaian tersebut. Perlengkapan ini antara lain tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris lainnya.
Tingkuluak (Tengkuluk)
Tengkuluk yakni sebuah epilog kepala yang bentuknya ibarat kepala kerbau atau atap rumah gadang. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun ketika dalam upacara adat.
Baju Batabue
Baju batabue atau baju bertabur yakni baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan wacana kekayaan alam tempat Sumatera Barat yang sangat berlimpah. Corak dari sulaman inipun sangat beragam.
Baju batabue sanggup kita temukan dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bab tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang disebut minsie. Minsie yakni sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang perempuan Minang harus taat pada batas-batas huku adat.
Lambak
Lambak atau sarung yakni bawahan pelengkap pakaian budpekerti Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan ada pula yang berikat. Sarung dikenakan menutupi bab bawah badan perempuan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya sanggup disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung budpekerti Nagari mana yang memakainya.
Salempang
Salempang yakni selendang biasa yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak perempuan pemakainya. Salempang menyimbolkan bahwa seorang perempuan harus mempunyai welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi.
Perhiasan
Lazimnya pakaian budpekerti perempuan dari tempat lain, penggunaan pakaian budpekerti Sumatera Barat untuk perempuan juga dilengkapi dengan bermacam-macam aksesoris. Aksesoris tersebut contohnya dukuah (kalung), galang (gelang), dan cincin. Dukuah ada beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang perempuan harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam azas bulat kebenaran. Sementara motif galang antara lain galang bapahek, kunci maiek, galang rago-rago, galang ula, dan galang basa. Pemakaian gelang mempunyai filosofi bahwa seorang perempuan mempunyai batasan-batasan tertentu dalam melaksanakan aktivitasnya.
Deta
Deta atau destar yakni sebuah epilog kepala yang terbuat dari kain hitam biasa yang dililitkan sedemikian rupa sehingga mempunyai banyak kerutan. Kerutan pada deta melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, ketika akan memutuskan sesuatu hendaknya terlebih dahulu dia sanggup mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan jelek setiap keputusannya itu. Adapun menurut pemakainya, deta sendiri dibedakan menjadi deta raja untuk para raja, deta gadang dan deta saluak batimbo untuk penghulu, deta ameh, dan deta cilieng manurun.
Baju
Baju penghulu umumnya berwarna hitam. Baju ini dibentuk dari kain beludru. Warna hitamnya melambangkan wacana arti kepemimpinan. Segala puji dan umpat haru sanggup diredam mirip halnya warna hitam yang tak akan berubah meski warna lain menodainya.
Sarawa
Sarawa yakni celana penghulu yang juga berwarna hitam. Celana ini mempunyai ukuran yang besar pada bab betis dan paha. Ukuran tersebut melambangkan bahwa seorang pemimpin budpekerti harus berjiwa besar dalam melaksanakan kiprah dan mengambil keputusan.
Sasampiang
Sasampiang yakni selendang merah berhias benang makau warna warni yang dikenakan di pundak pemakainya. Warna merah selendang melambangkan keberanian, sementara hiasan benang makau melambangkan ilmu dan kearifan.
Cawek
Cawek atau ikat pinggang berbahan kain sutra yang dikenakan untuk menguatkan ikan celana sarawa yang longgar. Kain sutra pada cawek melambangkan bahwa seorang penghulu harus cakap dan lembut dalam memimpin serta sanggup mengikat jalinan persaudaraan antar masyarakat yang dipimpinnya.
Sandang
Sandang yakni kain merah yang diikatkan dipinggang sebagai pelengkap pakaian budpekerti Sumatera Barat. Kain merah ini berbentuk segi empat, melambangkan bahwa seorang penghulu harus tunduk pada aturan adat.
Keris dan Tongkat
Keris diselipkan di pinggang, sementara tungkek atau tongkat dipakai untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan ini yakni simbol bahwa kepemimpinan yakni amanah dan tanggung jawab besar.
Nah, demikianlah pembahasan mengenai pakaian budpekerti Sumatera Barat dan penjelasannya. Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan kita wacana khasanah budaya suku Minangkabau di provinsi yang beribukota di kota Padang ini. Semoga sanggup menjadi materi pembelajaran. Salam!
Pakaian Adat Sumatera Barat
Pakaian budpekerti Sumatera Barat yang sangat dikenal di kancah nasional bahwasanya sebuah pakaian yang sangat sederhana. Pakaian yang berjulukan pakaian Bundo Kanduang atau Limapeh Rumah Nan Gadang ini mempunyai keunikan terutama pada bab epilog kepalanya yang berbentuk ibarat tanduk kerbau atau atap rumah gadang.Bundo kanduang sendiri yakni pakaian budpekerti Minangkabau yang dikenakan oleh para perempuan yang telah menikah. Sementara untuk para laki-laki maupun untuk sepasang pengantin, dikenal pula beberapa jenis pakaian lainnya. Berikut ini kami akan membahas wacana pakaian-pakaian budpekerti Sumatera Barat tersebut secara lengkap beserta nilai-nilai filosofinya. Silakan disimak!
1. Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang
Yang pertama yakni Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang atau sering pula disebut pakaian Bundo Kanduang. Pakaian ini yakni lambang kebesaran bagi para perempuan yang telah menikah. Pakaian tersebut yakni simbol dari pentingnya kiprah seorang ibu dalam sebuah keluarga.Limapeh sendiri artinya yakni tiang tengah dari bangunan rumah budpekerti Sumatera Barat. Peran limapeh dalam mengokohtegakan bangunan yakni analogi dari kiprah ibu dalam sebuah keluarga. Jika limapeh rubuh, maka rumah atau suatu bangunan juga akan rubuh, begitupun kalau seorang ibu atau perempuan tidak pintar mengatur rumah tangga, maka keluarganya juga tak akan bertahan lama.
Secara umum, pakaian budpekerti Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang mempunyai desain yang berbeda-beda dari setiap nagari atau sub suku. Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang niscaya ada dalam jenis-jenis pakaian tersebut. Perlengkapan ini antara lain tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris lainnya.
Tingkuluak (Tengkuluk)
Tengkuluk yakni sebuah epilog kepala yang bentuknya ibarat kepala kerbau atau atap rumah gadang. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun ketika dalam upacara adat.
Baju Batabue
Baju batabue atau baju bertabur yakni baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan wacana kekayaan alam tempat Sumatera Barat yang sangat berlimpah. Corak dari sulaman inipun sangat beragam.
Baju batabue sanggup kita temukan dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bab tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang disebut minsie. Minsie yakni sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang perempuan Minang harus taat pada batas-batas huku adat.
Lambak
Lambak atau sarung yakni bawahan pelengkap pakaian budpekerti Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan ada pula yang berikat. Sarung dikenakan menutupi bab bawah badan perempuan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya sanggup disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung budpekerti Nagari mana yang memakainya.
Salempang
Salempang yakni selendang biasa yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak perempuan pemakainya. Salempang menyimbolkan bahwa seorang perempuan harus mempunyai welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi.
Perhiasan
Lazimnya pakaian budpekerti perempuan dari tempat lain, penggunaan pakaian budpekerti Sumatera Barat untuk perempuan juga dilengkapi dengan bermacam-macam aksesoris. Aksesoris tersebut contohnya dukuah (kalung), galang (gelang), dan cincin. Dukuah ada beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang perempuan harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam azas bulat kebenaran. Sementara motif galang antara lain galang bapahek, kunci maiek, galang rago-rago, galang ula, dan galang basa. Pemakaian gelang mempunyai filosofi bahwa seorang perempuan mempunyai batasan-batasan tertentu dalam melaksanakan aktivitasnya.
Baca Juga : Pakaian Adat Aceh
2. Baju Tradisional Pria Minangkabau
Pakaian budpekerti Sumatera Barat untuk para laki-laki berjulukan pakaian penghulu. Sesuai namanya, pakaian ini Istimewa untuk dipakai oleh tetua budpekerti atau orang tertentu, dimana dalam cara pemakaiannya pun di atur sedemikian rupa oleh aturan adat. Pakaian ini terdiri atas beberapa kelengkapan yang di antaranya Deta, baju hitam, sarawa, sesamping, cawek, sandang, keris, dan tungkek.Deta
Deta atau destar yakni sebuah epilog kepala yang terbuat dari kain hitam biasa yang dililitkan sedemikian rupa sehingga mempunyai banyak kerutan. Kerutan pada deta melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, ketika akan memutuskan sesuatu hendaknya terlebih dahulu dia sanggup mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan jelek setiap keputusannya itu. Adapun menurut pemakainya, deta sendiri dibedakan menjadi deta raja untuk para raja, deta gadang dan deta saluak batimbo untuk penghulu, deta ameh, dan deta cilieng manurun.
Baju
Baju penghulu umumnya berwarna hitam. Baju ini dibentuk dari kain beludru. Warna hitamnya melambangkan wacana arti kepemimpinan. Segala puji dan umpat haru sanggup diredam mirip halnya warna hitam yang tak akan berubah meski warna lain menodainya.
Sarawa
Sarawa yakni celana penghulu yang juga berwarna hitam. Celana ini mempunyai ukuran yang besar pada bab betis dan paha. Ukuran tersebut melambangkan bahwa seorang pemimpin budpekerti harus berjiwa besar dalam melaksanakan kiprah dan mengambil keputusan.
Sasampiang
Sasampiang yakni selendang merah berhias benang makau warna warni yang dikenakan di pundak pemakainya. Warna merah selendang melambangkan keberanian, sementara hiasan benang makau melambangkan ilmu dan kearifan.
Cawek
Cawek atau ikat pinggang berbahan kain sutra yang dikenakan untuk menguatkan ikan celana sarawa yang longgar. Kain sutra pada cawek melambangkan bahwa seorang penghulu harus cakap dan lembut dalam memimpin serta sanggup mengikat jalinan persaudaraan antar masyarakat yang dipimpinnya.
Sandang
Sandang yakni kain merah yang diikatkan dipinggang sebagai pelengkap pakaian budpekerti Sumatera Barat. Kain merah ini berbentuk segi empat, melambangkan bahwa seorang penghulu harus tunduk pada aturan adat.
Keris dan Tongkat
Keris diselipkan di pinggang, sementara tungkek atau tongkat dipakai untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan ini yakni simbol bahwa kepemimpinan yakni amanah dan tanggung jawab besar.
3. Pakaian Adat Pengantin Padang
Selain baju bundo kanduang dan baju penghulu, ada pula jenis pakaian budpekerti Sumatera Barat lainnya yang umum dikenakan oleh para pengantin dalam upacara pernikahan. Pakaian pengantin ini lazimnya berwarna merah dengan tutup kepala dan hiasan yang lebih banyak. Hingga kini, pakaian tersebut masih kerap dipakai tapi tentunya dengan sedikit tambahan modernisasi dengan gaya atau desain yang lebih unik.Nah, demikianlah pembahasan mengenai pakaian budpekerti Sumatera Barat dan penjelasannya. Semoga pembahasan ini sanggup menambah pengetahuan kita wacana khasanah budaya suku Minangkabau di provinsi yang beribukota di kota Padang ini. Semoga sanggup menjadi materi pembelajaran. Salam!




Komentar
Posting Komentar